Ide Bermain untuk Balita di Hari Idul Adha

Besok sudah Idul Adha.. Mumpung banyak sodara kumpul di rumah, sepupu nya anak anak, ngumpulin ide bermain untuk besok dan lusa. Biar ada nilai  belajar tiap hari nya. mimom kumpulin beberapa project dan printable yang mimom temukan di pinterest dan beberapa web lainnya.. Apa saja ya yang bisa kita bikin bersama anak anak di Hari Idul Adha? Yuk dilihat…

Share This:

Continue Reading

10 TUGAS SUAMI/ AYAH UNTUK ASI EKSKLUSIF

d1ab72d1a434001e685eb836d65ab7b2

Ada studi yang mengatakan bahwa suksesnya seorang ibu menyusui sebagian besar dipengaruhi oleh pasangannya. kalian percaya? kalo aku yess banget. Aku , salah seorang ibu dan konselor yang percaya bahwa suami memegang peranan sangat penting untuk urusan asi(terutama asi ekslusif).

Peran ayah sangat mempengaruhi pengambilan sikap dan keputusan ibu memberikan ASI pada bayi. Menurut data penelitian Ohio, 115 ibu yang baru melahirkan menunjukkan ketidakberhasilan menyusui hanya 26,9% karena ayah tidak mengerti pengetahuan tentang asi, sedangkan keberhasilan menyusui hampir mencapai 98% karena ayah mengeri pengetahuan tentang ASI. Oleh karena itu, keterlibatan ayah dalam keberhasilan menyusui sangat besar bahkan Michigan State University merekomendasikan pendidikan ASI bagi ayah (Littman, 1994)

Nah sekarang, hal hal simpel apa yang bisa ayah lakukan untuk mendukung keberhasilan ibu menyusui? mari disimak yuk;)

1. belajar tentang menyusui

Banyak yang berpendapat diluar sana bahwa menyusui adalah hal alami untuk seorang ibu. Pun dengan ayah/bapak. Banyak dari mereka beranggapan jika menyusui adalah hal yang gampang untuk dilakukan, kalaupun tidak bisa ya berarti memang belum rizkinya si ibu/bayi, lalu dengan mudah beralih ke sufor. Ini diluar  faktor faktor lain yah seperti bblr, bayi terinfeksi dll. jadi mimom menekankan khusus untuk poin pertama, si ayah mesti belajar juga tentang apa itu asi, bagaimana asi bisa dihasilkan, kenapa ada asi yang tidak keluar pada saat usia bayi baru sehari, apa yang mendukung asi dapat diproduksi dengan baik,dsb. kalo mau yang handy tinggal googling, banyak banget forum2 yang menjelaskan. kalo mau yang lebih manly bisa dibaca buku satu ini.

Az1ohRbCUAA-twoPengalaman pribadi mimom yang punya suami bukan dari basic medis, buku diatas tersebut sangat2 membantu menjelaskan apa yang bisa terjadi dengan si ibu saat awal2 melahirkan dan proses menyusui.  Dijabarkan kasus per kasus dan dengan bahasa laki laki. Quotes yang paling mimom inget adalah ” bikinnya bareng bareng, ngebesarin ngasuh dan ngASI nya juga mesti bareng” 🙂
2. sediakan air minum untuk istri/ibu menyusui

bayi yang sedang belajar menyusu pada awal kelahiran tidak terlalu memerlukan banyak volume cairan. yang butuh banyak justru si Ibu. Menyusui bisa membakar rata2 500 kalori tiap menyusui. Wajar bila si ibu kemudian merasa sangat haus dan lapar sesudah menyusui. Tips kedua dari mimom, sediakan deh air minum di dekat ibu. bisa air putih, jus atau kalau lagi niat segelas coklat hangat;)
3. siapkan pompa asi

Menyusui langsung pada payudara adalah yang terbaik, tapi mempersiapkan pompa asi untuk senjata awal asi eksklusif juga utama. Kenapa? karena ada beberapa kasus, si bayi belum pintar menyusu, si ibu masih kelelahan tapi ingin segera memberi asi, pompa asi dapat bekerja seolah olah merangsang asi untuk segera keluar. Atau kasus dimana si bayi mesti berpisah sementara dari ibu karena BBLR  atau prematur, si ibu dapat tetap memberi asi perah untuk bayi dengan bantuan pompa asi. jadi ayah, siapkan pompa asi sebelum melahirkan yah;) diskusikan saja sebelum membeli. it will be a fun discussion with your wife
4. tau dimana posisi barang2 yang berhubungan dengan bayi, menyusui dan si ibu sendiri,siap untuk menyediakannya pada saat istri membutuhkan

Kadang ayah / suami kurang paham dimana letak barang bayi yang baru ataupun fungsinya. Tidak apa apa, bertanyalah pada istri atau ibu anda. Mimom yakin, semua orang disekitar akan saling bantu membantu demi si bayi yang baru lahir. Tetapi kalau ayah paham barang barang yang dibutuhkan, hal tersebut akan jadi poin plus plus dimata Ibu. Hal simpel seperti, tahu dimana kapas bulat untuk membasuh bayi, tahu mana baju untuk pagi dan malam atau tahu bagaimana merakit pompa asi dan mensterilkannya
5. bantu pekerjaan rumah tangga

Se simpel ayah mau bantu menyapu dan meletakkan handuk kembali ditempatnya setelah mandi (!), sudah bisa membantu pekerjaan rumah tangga si Ibu. JIka ada rizki berlebih, hire ART selama ibu menyesuaikan jadwal mengurus bayi dengan pekerjaan rumah lainnya. Jika tidak, bagi tugas berdua dengannya, tapi berikan porsi ringan untuk si Ibu:p yang lain biar Ayah yang bekerja. Ga lama kok, dan ga akan bikin Ibu jadi manja. Ibu ibu muda ini malah akan tambah jatuh cinta sama suaminya.Yakin!
6. buat istri selalu terhibur dan happy, temani perputaran waktu mereka

Ga usah repot2 kirim bunga atau bawa badut kerumah, ajak istri ngobrol seru tentang hal lucu diluar rumah, tentang panik panik kecil saat si bayi pup, atau tentang hal yang lagi in di sosial media. jangan diajak ngobrol tentang politik yah (kecuali istri memang suka, ndak papa sih). atau bisa nonton video lucu di youtube. Jangan lupa untuk temani perputaran waktu ibu dan bayi. Pada awal kelahiran, waktu seolah berputar. siang jadi malam, malam jadi siang. Pas waktu malam jadi siang dimana si Ibu banyak begadang, Ayah jangan cuek dan molor:)) temani ibu menyusui, ambilkan air putih, nonton bareng sambil ngemil setelah menyusui, atau kalo lahiran pas bulan bulan sekarang bisa disambi nonton Liga Champion. Ayah senang update bola, ibu bahagia ada ayah yang menemani. Kalo kalian pejuang LDR, stay tune dengan gadget, sewaktu waktu si Ibu menghubungi saat terjaga menyusui, stay there with her (Duh ini pengalaman mimom banget).
7. beri pujian tulus bahwa yang istri lakukan untuk menyusui adalah hebat.

Tulus, ga usah menye menye bilang si Ibu cantik bak bidadari padahal (mungkin) ga sempat mandi atau dandan plus bau susu, let just say.. “makasih ya sayang, kamu udah berusaha kasih yang terbaik buat bayi KITA” wihh melayang deh si Ibu:p
8. Bantu untuk bayi sendawa setelah selesai menyusu. keep skin to skin with baby

Ini poin kecil tapi amat penting.  Membuat bayi sendawa berfungsi untuk membantu pencernaan bayi, mencegah colic dan memperat ikatan antara ayah dan anak. Biarkan urusan menyusu untuk Ibu, sementara menyendawakan untuk Ayah. Ini ritual kecil yang bisa Ayah kenang sepanjang masa loh.

IMG_20121215_200942
9. berikan selah waktu untuk ibu ‘me time’ dengan cara bermain dengan si bayi atau tidur bersama si bayi berdua

apa itu me time? Me time adalah waktu untuk seseorang sendiri saja, merefleksikan kehidupannya, mengurangi stressor yang ada dan yang jelas bersantai dari rutinitas. Berikan waktu tsb untuk Ibu, bisa setiap hari saat si Ibu mandi, bantu untuk menenangkan/ mengasuh bayi. Bila ada waktu lebih luang, persilahkan Ibu untuk pijat, creambath atau ke resto yang Ibu senangi sendiri. Sementara ayah bersama si bayi. Ketika sudah lebih besar, Ayah bisa tidur bersama si bayi setelah bayi menyusu sementara berikan waktu si Ibu untuk istirahat dengan caranya sendiri.
10. kurangi stress ibu

Ada berbagai macam tipe wanita dan pembawaannya. Tapi yang jelas, masa hamil melahirkan dan menyusui, membawa tingkat stres masing masing. Komunikasi yang baik adalah kunci untuk mengurangi stres si Ibu.

 

Hal hal di atas adalah tips singkat untuk para Ayah yang ingin membantu Ibu sukses ASIx.  Disusun dari banyak cerita, sharing dan diskusi dengan ibu pejuang asi. Pasti banyak hal yang kurang dari artikel diatas, tapi pastikan satu hal, bahwa perempuan yang anda cintai  yang sedang berjuang memberikan yang terbaik untuk bayi/anak anda berdua merasa bahwa anda adalah laki laki dan ayah yang mendukung 100% usahanya.

 

Fatherhood, requires LOVE not only DNA

IMG_20140622_205930

Share This:

Continue Reading

[Copas] Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak

Mengembangkan Kecerdasan Spiritual Anak oleh KH.DR. Jalaluddin Rakhmat

IMG_20150206_174054
Waktu itu, dini hari, di sebuah rumah sederhana. Rahman dan isterinya terbangun karena mendengar derak pintu terbuka. Dipasangnya telinganya tajam-tajam. Mereka yakin suara itu berasal dari kamar anaknya, yang berusia tujuh tahun. Langkah-langkah kecil, terdengar seperti berjingkat-jingkat, bergerak menuju satu-satunya kamar mandi di rumah itu. Mereka mendengar suara air mengalir yang disusul dengan suara gerakan membasuh. Langkah-langkah kecil itu kembali ke kamarnya. Walaupun sayup, karena dinihari yang hening, mereka mendengar suara bacaan Al-Quran. Anak itu rupanya sedang melakukan salat malam. Tiba-tiba keduanya merasakan airmata hangat membasahi pipinya.
Kisah ini disampaikan kepada saya oleh Pak Rahman, ketika saya masih menjadi guru mengaji anak-anak di kampung tempat tinggal saya. Karena kejadian itu, kedua orang tua itu mulai melakukan salat dan meninggalkan perjudian populer- lotto. Ini terjadi kira-kira tiga puluh tahun yang lalu. Saya mendengar kejadian lain yang hampir mirip dengan itu dua atautiga tahun tahun yang lalu.
Kali ini, saya menjadi direktur SMU (Plus) Muthahhari. Seorang ibu, orang tua murid yang baru lulus, datang dari Banten. Ia meminta bantuan saya untuk mengirim Rahmat ke Jerman. Ia sudah meyakinkan anaknya bahwa ia tidak akan mampu untuk membiayainya. Tetapi anaknya berulang-kali meyakinkan orangtuanya, bahwa Tuhan pasti akan memberikan jalan. Di tengah-tengah pembicaraan, ibu itu bercerita tentang perubahan perilaku anaknya setelah masuk sekolah kami. Waktu pulang kampung, ia banyak menaruh perhatian pada tetangga-tetangganya yang miskin. Menjelang Lebaran, seperti biasanya, ibu itu memberi anaknya uang untuk membeli pakaian baru. Rahmat menerima uang itu seraya minta izin untuk memberikannya pada tukang becak tetangganya. “Uang ini jauh lebih berharga bagi dia ketimbang saya, Bu,” kata Rahmat. Ibunya bercerita sambil meneteskan airmata.
Kedua kisah nyata di atas menyajikan contoh anak yang cerdas secara spiritual. Keduanya terjadi jauh sebelum konsep kecerdasan spiritual ramai diperbincangkan.

Karena saya tidak ingin bertele-tele mendiskusikan apa yang disebut SQ, dan hanya untuk menyamakan pengertian SQ, saya akan mengutip lima karakteristik orang yang cerdas secara spiritual menurut Roberts A. Emmons,The Psychology of Ultimate Concerns:

(1) kemampuan untuk mentransendensikan yang fisik dan material;

(2) kemampuan untuk mengalami tingkat kesadaran yang memuncak;

(3) kemampuan untuk mensakralkan pengalaman sehari-hari;

(4) kemampuan untuk menggunakan sumber-sumber spiritual buat menyelesaikan masalah; dan

(5) kemampuan untuk berbuat baik
Dua karakteristik yang pertama sering disebut sebagai komponen inti kecerdasan spiritual. Anak yang merasakan kehadiran Tuhan atau makhluk ruhaniyah di sekitarnya mengalami transendensi fisikal dan material. Ia memasuki dunia spiritual. Ia mencapai kesadaran kosmis yang menggabungkan dia dengan seluruh alam semesta. Ia merasa bahwa alamnya tidak terbatas pada apa yang disaksikan dengan alat-alat indrianya. Anak Pak Rahman pada kisah pertama memiliki kedua ciri ini, terutama ketika ia menyampaikan doa-doa personalnya dalam salat malamnya.
Sanktifikasi pengalaman sehari-hari, ciri yang ketiga, terjadi ketika kita meletakkan pekerjaan biasa dalam tujuan yang agung. Konon, pada abad pertengahan seorang musafir bertemu dengan dua orang pekerja yang sedang mengangkut batu-bata. Salah seorang di antara mereka bekerja dengan muka cemberut, masam, dan tampak kelelahan. Kawannya justru bekerja dengan ceria, gembira, penuh semangat. Ia tampak tidak kecapaian. Kepada keduanya ditanyakan pertanyaan yang sama, “Apa yang sedang Anda kerjakan?” Yang cemberut menjawab, “Saya sedang menumpuk batu.” Yang ceria berkata, “Saya sedang membangun katedral!” Yang kedua telah mengangkat pekerjaan “menumpuk bata” pada dataran makna yang lebih luhur. Ia telah melakukan sanktifikasi.
Orang yang cerdas secara spiritual tidak memecahkan persoalan hidup hanya secara rasional atau emosional saja. Ia menghubungkannya dengan makna kehidupan secara spiritual. Ia merujuk pada warisan spiritual –seperti teks-teks Kitab Suci atau wejangan orang-orang suci- untuk memberikan penafsiran pada situasi yang dihadapinya, untuk melakukan definisi situasi. Ketika Rahmat diberitahu bahwa orang tuanya tidak akan sanggup menyekolahkannya ke Jerman, ia tidak putus asa. Ia yakin bahwa kalau orang itu bersungguh-sungguh dan minta pertolongan kepada Tuhan, ia akan diberi jalan. Bukankah Tuhan berfirman, “Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami, Kami akan berikan kepadanya jalan-jalan Kami”? Bukankah Heinrich Heine memberikan inspirasi dengan kalimatnya “Den Menschen macht seiner Wille groß und klein”? Rahmat memiliki karakteristik yang keempat.
Tetapi Rahmat juga menampakkan karakteristik yang kelima: memiliki rasa kasih yang tinggi pada sesama makhluk Tuhan. “The fifth and final component of spiritual intelligence refers to the capacity to engage in virtuous behavior: to show forgiveness, to express gratitude, to be humble, to display compassion and wisdom,” tulis Emmons. Memberi maaf, bersyukur atau mengungkapkan terimakasih, bersikap rendahhati, menunjukkan kasih sayang dan kearifan, hanyalah sebagian dari kebajikan. Karakteristik terakhir ini mungkin disimpulkan dalam sabda nabi Muhammad saw, “Amal paling utama ialah engkau masukkan rasa bahagia pada sesama manusia.”
Kiat-kiat mengembangkan SQ anak
Dengan pengertian di atas, berikut ini saya sampaikan secara singkat kiat-kiat untuk mengembangkan SQ anak-anak kita:

(1) Jadilah kita “gembala spiritual” yang baik,

(2) bantulah anak untuk merumuskan “missi” hidupnya,

(3) baca kitab suci bersama-sama dan jelaskan maknanya dalam kehidupan kita,

(4) ceritakan kisah-kisah agung dari tokoh-tokoh spiritual,

(5) diskusikan berbagai persoalan dengan perspektif ruhaniah,

(6) libatkan anak dalam kegiatan-kegiatan ritual keagamaan,

(7) bacakan puisi-puisi, atau lagu-lagu yang spiritual dan inspirasional,

(8) bawa anak untuk menikmati keindahan alam,

(9) bawa anak ke tempat-tempat orang yang menderita, dan

(10) ikut-sertakan anak dalam kegiatan-kegiatan sosial.
Jadilah gembala spiritual. Orang tua atau guru yang bermaksud mengembangkan SQ anak haruslah seseorang yang sudah mengalami kesadaran spiritual juga. Ia sudah “mengakses” sumber-sumber spiritual untuk mengembangkan dirinya. Seperti disebutkan di atas –yakni karakteristik orang yang cerdas secara spiritual, ia harus dapat merasakan kehadiran dan peranan Tuhan dalam hidupnya. “Spriritual intelligence is the faculty of our non-material dimension- the human soul,” kata Khalil Khavari. Ia harus sudah menemukan makna hidupnya dan mengalami hidup yang bermakna. Ia tampak pada orang-orang di sekitarnya sebagai “orang yang berjalan dengan membawa cahaya.” (Al-Quran 6:122) Ia tahu ke mana ia harus mengarahkan bahteranya. Ia pun menunjukkan tetap bahagia di tengah taufan dan badai yang melandanya. “Spiritual intelligence empowers us to be happy in spite of circumstances and not because of them,” masih kata Khavari. Bayangkalah masa kecil kita dahulu. Betapa banyaknya perilaku kita terilhami oleh orang-orang yang sekarang kita kenal sebagai orang yang berSQ tinggi. Dan orang-orang itu boleh jadi orang-tua kita, atau guru kita, atau orang-orang kecil di sekitar kita.
Rumuskan missi hidup. Nyatakan kepada anak bahwa ada berbagai tingkat tujuan, mulai dari tujuan paling dekat sampai tujuan paling jauh, tujuan akhir kita. Kepada saya datang seorang anak muda dari Indonesia bagian timur. Ia meminta bantuan saya untuk melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi swasta, setelah gagal di UMPTN. Ia tidak punya apa pun kecuali kemauan. Sayang, ia belum bisa merumuskan keinginannya dalam kerangka missi yang luhur. Berikut ini adalah cuplikan percakapan kami:
– Saya ingin belajar, Pak
– Untuk apa kamu belajar?
– Saya ingin mendapat pekerjaan.
– Jika belajar itu hanya untuk dapat pekerjaan, saya beri kamu pekerjaan.
Tinggallah di rumahku. Cuci mobilku, dan saya bayar.
– Saya ingin belajar, Pak
– – Untuk apa kamu belajar?
– – Saya ingin mendapat pengetahuan
– – Jika tujuan kamu hanya untuk memperoleh pengetahuan, tinggallah bersamaku. Saya wajibkan kamu setiap hari untuk membaca buku. Kita lebih banyak memperoleh pengetahuan dari buku ketimbang sekolah.
– – Tetapi saya ingin masuk sekolah.
– – Untuk apa kamu masuk sekolah?
– – Saya bingung, Pak.
Saya sebenarnya ingin mengarahkan dia untuk memahami tujuan luhur dia. Dengan menggunakan teknik “what then, señor” dalam anekdot Danah Zohar, kita dapat membantu anak untuk menemukan missinya. Jika kamu sudah sekolah, kamu mau apa? Aku mau jadi orang pintar. Jika sudah pintar, mau apa, what then? Dengan kepintaranku, aku akan memperoleh pekerjaan yang bagus. Jika sudah dapat pekerjaan, mau apa? Aku akan punya duit banyak. Jika sudah punya duit banyak, mau apa? Aku ingin bantu orang miskin, yang di negeri kita sudah tidak terhitung jumlahnya. Sampai di sini, kita sudah membantu anak untuk menemukan tujuan hidupnya.
Baca Kitab Suci. Setiap agama pasti punya kitab suci. Begitu keterangan guru-guru kita. Tetapi tidak setiap orang menyediakan waktu khusus untuk memperbincangkan kitab suci dengan anak-anaknya. Di antara pemikir besar islam, yang memasukkan kembali dimensi ruhaniah ke dalam khazanah pemikiran Islam, adalah Dari Muhammad Iqbal. Walaupun ia dibesarkan dalam tradisi intelektual barat, ia melakukan pengembaraan ruhaniah bersama Jalaluddin Rumi dan tokoh-tokoh sufi lainnya. Boleh jadi, yang membawa Iqbal ke situ adalah pengalaman masa kecilnya. Setiap selesai salat Subuh, ia membaca Al-Quran. Pada suatu hari, bapaknya berkata, “Bacalah Al-Quran seakan-akan ia diturunkan untukmu!” Setelah itu, kata Iqbal, “aku merasakan Al-Quran seakan-akan berbicara kepadaku.”
Ceritakan kisah-kisah agung. Anak-anak, bahkan orang dewasa, sangat terpengaruh dengan cerita. “Manusia,” kata Gerbner, “adalah satu-satunya makhluk yang suka bercerita dan hidup berdasarkan cerita yang dipercayainya.” Para Nabi mengajar umatnya dengan parabel atau kisah perumpamaan. Para sufi seperti Al-‘Attar, Rumi, Sa’di mengajarkan kearifan perenial dengan cerita. Sekarang Jack Canfield memberikan inspirasi pada jutaan orang melalui Chicken Soup-nya. Kita tidak akan kekurangan cerita luhur, bila kita bersedia menerima cerita itu dari semua sumber. Saya senang berdiskusi dengan anak-anak saya bukan hanya kisah-kisah Islam saja, juga cerita-cerita dalam Alkitab, kisah-kisah dari Cina dan India, mitologi Yunani, dongeng-dongeng dari berbagai tempat di tanah air, sejak kisah-kisah pewayangan di Jawa sampai dongeng-dongeng dari Maluku. Begitu pula, saya membaca cerita-cerita Andersen, fabel-fabelnya Jean de la Fontaine, sampai Crayon Sin Chan. Saya selalu menemukan pelajaran berharga di dalamnya. Saya bagikan pelajaran itu pada anak-anak saya, yang dilahirkan baik oleh isteri saya, maupun oleh isteri-isteri orang lain (misalnya, yang saya ajar di sekolah saya).
Diskusikan berbagai persoalan dengan perspektif ruhaniah. Melihat dari perspektif ruhaniah artinya memberikan makna dengan merujuk pada Rencana Agung Ilahi (divine grand Design). Mengapa hidup kita menderita? Kita sedang diuji Tuhan. Dengan mengutip Rumi secara bebas, katakan kepada anak kita bahwa bunga mawar di taman bunga hanya merkah setelah langit menangis. Anak kecil tahu bahwa ia hanya akan memperoleh air susu dari dada ibunya setelah menangis. Penderitaan adalah cara Tuhan untuk membuat kita menangis. Menangislah supaya Sang Perawat Agung memberikan susu keabadian kepadamu. Mengapa kita bahagia? Perhatikan bagaimana Tuhan selalu mengasihi kita, berkhidmat melayani keperluan kita, bahkan jauh sebelum kita dapat menyebut asma-Nya.
Libatkan anak dalam kegiatan-kegiatan ritual keagamaan. Kegiatan agama adalah cara praktis untuk “tune in” dengan Sumber dari Segala Kekuatan. Ambillah bola lampu listrik di rumah Anda. Bahaslah bentuknya, strukturnya, komponen-komponennya, kekutan cahayanya, voltasenya, dan sebagainya. Anda pasti menggunakan sains. Kegiatan agama adalah kabel yang menghubungkan bola lampu itu dengan sumber cahaya. Sembahyang, dalam bentuk apa pun, mengangkat manusia dari pengalaman fisikal dan material ke pengalaman spiritual. Untuk itu, kegiatan keagamaan tidak boleh dilakukan dengan terlalu banyak menekankan hal-hal yang formal. Berikan kepada anak-anak kita makna batiniah dari setiap ritus yang kita lakukan. Sembahyang bukan sekedar kewajiban. Sembahyang adalah kehormatan untuk menghadap Dia yang Mahakasih dan Mahasayang!
Bacakan puisi-puisi, atau lagu-lagu yang spiritual dan inspirasional. Seperti kita sebutkan di atas, manusia mempunyai dua fakultas –fakultas untuk mencerap hal-hal material dan fakultas untuk mencerap hal-hal spiritual. Kita punya mata lahir dan mata batin. Ketika kita berkata “masakan ini pahit”, kita sedang menggunakan indra lahiriah kita. Tetapi ketika kita berkata “keputusan ini pahit”, kita sedang menggunakan indra batiniah kita. Empati, cinta, kedamaian, keindahan hanya dapat dicerap dengan fakultas spiritual kita (Ini yang kita sebut sbg SQ). SQ harus dilatih. Salah satu cara melatih SQ ialah menyanyikan lagu-lagu ruhaniah atau membacakan puisi-puisi. Jika Plato berkata “pada sentuhan cinta semua orang menjadi pujangga”, kita dapat berkata “pada sentuhan puisi semua orang menjadi pecinta.”
Bawa anak untuk menikmati keindahan alam. Teknologi moderen dan kehidupan urban membuat kita teralienasi dari alam. Kita tidak akrab lagi dengan alam. Setiap hari kita berhubungan dengan alam yang sudah dicemari, dimanipulasi, dirusak. Alam tampak di depan kita sebagai musuh setelah kita memusuhinya. Bawalah anak-anak kita kepada alam yang relatif belum banyak tercemari. Ajak mereka naik ke puncak gunung. Rasakan udara yang segar dan sejuk. Dengarkan burung-burung yang berkicau dengan bebas. Hirup wewangian alami. Ajak mereka ke pantai. Rasakan angin yang menerpa tubuh. Celupkan kaki kita dan biarkan ombak kecil mengelus-elus jemarinya. Dan seterusnya. Kita harus menyediakan waktu khusus bersama mereka untuk menikmati ciptaan Tuhan, setelah setiap hari kita dipengapkan oleh ciptaan kita sendiri.
Bawa anak ke tempat-tempat orang yang menderita. Nabi Musa pernah berjumpa dengan Tuhan di Bukit Sinai. Setelah ia kembali ke kaumnya, ia merindukan pertemuan dengan Dia. Ia bermunajat, “Tuhanku, di mana bisa kutemui Engkau.” Tuhan berfirman, “Temuilah aku di tengah-tengah orang-orang yang hancur hatinya.” Di sekolah kami ada program yang kami sebut sebagai “spiritual camping”. Kami bawa anak-anak ke daerah pedesaan, di mana alam relatif belum terjamah oleh teknologi. Malam hari, mereka mengisi waktunya dengan beribadat dan tafakkur. Siang hari mereka melakukan action research, untuk mencari dan meneliti kehidupan orang yang paling miskin di sekitar itu. Seringkali, ketika mereka melaporkan hasil penelitian itu, mereka menangis. Secara serentak, mereka menyisihkan uang mereka untuk memberkan bantuan. Dengan begitu, mereka dilatih untuk melakukan kegiatan sosial juga.
Ikut-sertakan anak dalam kegiatan-kegiatan sosial. Saya teringat cerita nyata dari Canfield dalam Chicken Soup for the Teens. Ia bercerita tentang seorang anak yang “catatan kejahatannya lebih panjang dari tangannya.” Anak itu pemberang, pemberontak, dan ditakuti baik oleh guru maupun kawan-kawannya. Dalam sebuah acara perkemahan, pelatih memberikan tugas kepadanya untuk mengumpulkan makanan untuk disumbangkan bagi penduduk yang termiskin. Ia berhasil memimpin kawan-kawannya untuk mengumpulkan danmembagikan makanan dalam jumlah yang memecahkan rekor kegiatan sosial selama ini. Setelah makanan, mereka mengumpulkan selimut dan alat-alat rumah tangga. Dalam beberapa minggu saja, anak yang pemberang itu berubah menjadi anak yang lembut dan penuh kasih. Seperti dilahirkan kembali, ia menjadi anak yang baik – rajin, penyayang, dan penuh tanggung jawab.

 

 

note : saya mendapatkan tulisan ini dari BC di whatsapp, karena saya anggap bagus sekali isi tulisannya maka saya kutip di blog pribadi ini dengan tujuan pengingat. tulisan yang sama persis saya temukan di blog ini

Share This:

Continue Reading